Bab 14 Harga sebuah Harga Diri
Monster batu itu menghantam lantai hingga seluruh ruangan berguncang, tetapi zirah merah yang dibagikan Minjun kepada Baek Soo dan seorang anggota Northstar bertahan. Yuna merapal sihir es untuk membekukan kakinya agar melambat, sementara Taesung terus menembak ke sendi sampai serpihan batu beterbangan.
Minjun berlari memutar ke belakang monster dan melihat retakan kecil di tengah punggungnya, cahaya merah bocor keluar seperti di dungeon peringkat S. Ia tak punya botol air mineral lagi, tetapi tali nilon masih tersampir di bahunya. Ia mengikatnya ke sebuah pilar dan melompat ke punggung monster tanpa memikirkan nyawanya.
Saat itu jendela merah memperingatkan dengan keras, “Poin cadangan di bawah ambang bahaya.” Tetapi Minjun tidak berhenti. Ia menancapkan belati tuanya ke retakan, dan energi merah menyembur naik di lengannya sampai tubuhnya hampir terlepas. Haneul melihatnya dan berteriak, lalu melepaskan cahaya biru pucat yang membungkusnya seluruhnya.
Monster batu itu roboh dengan dentuman menggelegar. Ruangan dipenuhi debu, dan ketika asapnya menipis, Minjun terbaring di lantai, terengah tetapi masih sadar. Jiwon berjalan mendekat perlahan dan berlutut di sampingnya. “Maafkan aku,” katanya pelan. “Aku tidak pernah melihat nilaimu.”
Minjun tersenyum letih. “Aku juga tidak pernah melihat nilai diriku sendiri.” Jiwon tertawa meski air matanya jatuh, dan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. “Northstar berutang satu kali kepada Tim Hari Terakhir,” katanya. “Dan aku bukan orang yang suka berutang.” Baek Soo yang mendengarkan di dekat situ berteriak, “Kalau begitu traktir kami makan gratis sepuluh kali!”
Komentar 0
Belum ada komentar — jadilah yang pertama 💬