Bab 1 Putri Kedua yang Tak Dipedulikan
Rasa sakit yang berdenyut di kepala membuat Liu Yulan membuka mata di tengah aroma dupa dan bisik-bisik dari luar pintu. Sebelum ingatannya sendiri sempat kembali utuh, suara seorang wanita paruh baya terdengar acuh tak acuh. “Nona kedua sudah bangun. Bagus. Nyonya Besar menyuruh bersiap menemui tamu sore ini.”
Tamu itu adalah pemilik toko garam terbesar di Songfeng, bernama Qin Yuan, berusia sekitar lima puluh tahun, berperut buncit, yang masuk ke ruang tamu membawa buku utang setebal batu bata. Semua orang di ruangan itu, termasuk kakak tertuanya, memandang Yulan seperti barang dagangan yang harus diserahkan agar urusan utang keluarga selesai.
Yulan tersenyum tipis dalam hati. Ingatan pemilik asli tubuh ini menegaskan bahwa ia sudah lama tak mendengar suaranya sendiri di rumah ini. Maka ia memutuskan melakukan hal yang tak diduga siapa pun. Ia berdiri, mengangkat teh dingin dan menyesapnya dengan tenang, lalu berkata datar, “Tuan Qin Yuan, bolehkah aku sendiri yang membayar utang keluarga Liu kepada Anda? Aku mohon waktu tiga hari.”
Keheningan langsung menyelimuti ruangan. Nyonya Besar meletakkan cangkir tehnya dengan keras, sementara Qin Yuan tertawa terbahak-bahak. “Apa yang bisa dijual nona dalam tiga hari? Usaha es keluarga Liu lebih tua daripada dirimu.” Yulan tidak menjawab. Ia hanya menatap pintu gudang di belakang dapur, tempat lemari kayu itu menunggu dalam gelap.
Malam itu, setelah semua orang tertidur, Yulan bergerak. Ia membuka lemari dengan ujung jari yang pernah ditusuk untuk meneteskan darah sebagai bukti jati diri. Kabut dingin menyembur keluar seperti aliran putih, dan jendela sistem muncul di hadapannya. “Selamat datang di Lemari Es Keluarga Liu. Misi pertama: jual sepuluh mangkuk es serut dalam tiga hari. Hadiah: membuka rak penyimpanan pertama.”
Yulan membaca pesan itu dua kali, lalu tertawa pelan dalam keheningan. Di dunia lamanya ia bekerja sebagai penjual makanan penutup dan tahu persis apa yang dibutuhkan sajian dingin yang baik. Ia mengambil madu bunga plum dari rak dapur, mencampurnya dengan es yang tersimpan di lemari, dan mencicipi satu sendok. Manis yang lembut dan dingin yang menusuk mengalir di tenggorokannya. “Besok, pasar malam Songfeng akhirnya akan mengenal Liu Yulan.”
Komentar 0
Belum ada komentar — jadilah yang pertama 💬