Bab 12 Marian Menghilang
Tiga hari setelah perjamuan, Marian pergi ke pasar di sore hari untuk membeli perbekalan dan tak pernah kembali. Roselin menunggu hingga larut malam dan tak juga melihat tanda-tandanya. Kecemasan menumpuk di dadanya hingga ia hampir tak bisa bernapas. Ia memerintahkan semua orang di mansion untuk segera keluar mencari.
Elara yang mendengar kabar itu bergegas datang membawa peta kota lama. Satu tempat dilingkari tinta merah, sebuah gudang terbengkalai di tepi sungai di wilayah luar kota. Ia berkata sebuah kereta meninggalkan pasar ke arah itu pada siang hari. Roselin tak ragu. Ia berkuda keluar bersama Elara dan hanya dua pengawal.
Gudang itu gelap dan lembap, udaranya pekat oleh bau karat dan jamur. Isak tangis samar terdengar dari ruangan terdalam. Roselin berjalan masuk menuju empat pria bertubuh kekar yang menghalangi pintu. Ia hanya mengangkat tangan, dan bayangannya memanjang, menutup jalan keluar dan mengikat pergelangan kaki mereka satu per satu.
Marian duduk di lantai dengan pergelangan tangan terikat tali. Ia mendongak dan melihat Roselin, matanya penuh air mata. “Nona benar-benar datang?” Roselin berlutut tanpa berkata dan melepas tali itu, lalu memeluknya erat dan berbisik, “Aku di sini. Tak ada yang akan menyakitimu lagi.”

Dalam perjalanan kembali ke kota, Marian bercerita bahwa orang-orang yang menculiknya adalah suruhan sekretaris sang Adipati, yang diperintahkan menakut-nakuti Roselin agar bungkam. Roselin menatap keluar jendela kereta dengan wajah serius. Ia tahu permainan ini telah menjadi perang yang tak bisa dihindari.
Komentar 0
Belum ada komentar — jadilah yang pertama 💬