Bab 2 Mansion yang Tak Dicintai Siapa Pun
Setelah mandi dan berganti gaun sederhana, Roselin meminta Marian mengajaknya berkeliling mansion Valent. Ia ingin segera mengenali tempat ini. Lorong panjang berlapis karpet merah, di kedua sisinya berdiri patung-patung batu yang diam seolah mengawasinya.
Semua orang yang berpapasan membungkuk padanya, tetapi mata mereka tak menyimpan rasa hormat. Ada yang menoleh untuk berbisik, ada yang buru-buru pergi seakan takut tertular penyakit. Roselin tahu reputasi sang antagonis telah mengikutinya sampai ke rumah ini.

Ayahnya, Adipati Raymond Valent, seharian mengurung diri di ruang kerjanya. Pintu kayu besarnya tertutup rapat dengan segel merah melintang. Roselin mengintip lewat jendela kecil dan melihat seorang pria jangkung berambut hitam bergaris putih tengah membungkuk di atas tumpukan kertas.
Seorang sekretaris keluar-masuk ruangan itu beberapa kali dalam hitungan menit. Ia membawa amplop tanpa nama penerima dan lenyap lewat tangga belakang. Roselin mengenali wajahnya, sebab dalam ingatan pemilik asli tubuh ini, dialah orang yang paling dipercaya ayahnya.
Marian berbisik agar ia berhati-hati. Sang Adipati tak pernah lagi memperhatikannya sejak ibunya wafat, dan tak seorang pun di rumah ini berani menyebut sang ibu. Rasa dingin menjalar di dada Roselin. Ia tak tahu siapa ibu sang antagonis, atau mengapa itu tak pernah ditulis di dalam novel.
Sebelum kembali ke kamar, ia berhenti di depan sebuah pintu besi kecil yang tersegel di ujung lorong. Marian bilang itu gudang lama yang sudah lama tak dimasuki siapa pun. Roselin tersenyum tipis dan berkata pelan, “Kalau tak ada yang masuk, berarti ada sesuatu yang tidak ingin mereka perlihatkan.”
Komentar 0
Belum ada komentar — jadilah yang pertama 💬