Bab 8 Surat Rahasia Sang Adipati
Suatu malam ketika Roselin sedang membaca catatannya di kamar, Marian bergegas masuk membawa amplop yang dilipat dua kali. Ia berkata menemukannya terjatuh di keranjang cucian sekretaris sang Adipati, dan merasa nonanya perlu melihatnya sebelum orang lain.
Surat itu mendaftar sejumlah bangsawan yang telah setuju mendukung sebuah rencana pada hari ulang tahun sang pangeran. Dua frasa muncul berulang kali, “malam tanpa bulan” dan “gudang di belakang rumah”. Roselin segera teringat pada pintu besi kecil yang tersegel di ujung lorong.

Ia menyalin seluruh isinya ke buku catatannya sendiri, lalu mengembalikan amplop itu ke tempat semula tanpa diketahui siapa pun. Marian bertanya cemas apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Roselin menjawab, “Untuk sekarang, tidak ada. Biarkan mereka mengira kita sama sekali tidak tahu apa-apa.”
Keesokan paginya ia melihat sang Adipati berdiri di balkon ruang kerjanya, memandangi taman bunga seakan sedang memikirkan sesuatu. Ketika menyadari kehadiran Roselin, ia berkata datar, “Kau tampak sangat berbeda, dan jauh lebih cerdik. Berhati-hatilah.” Lalu ia berbalik masuk tanpa menunggu jawaban.
Roselin tahu ia sedang berjalan di atas benang setipis silet. Ayahnya kini mengawasinya, dan apa pun yang ia lakukan mulai sekarang akan dianggap ancaman.
Komentar 0
Belum ada komentar — jadilah yang pertama 💬