Bab 3 Cangkir Teh Sang Antagonis
Keesokan paginya Roselin bangun saat ayam berkokok. Ia menyuruh Marian menyiapkan tungku dan meminta bahan-bahan sederhana dari dapur sendiri. Para pegawai dapur yang mendengarnya saling berpandangan bingung, sebab nona muda yang dulu memberi perintah dengan angkuh kini berbicara dengan kesopanan yang aneh.
Ia perlahan mencampur teh hijau dengan madu bunga jeruk dan menambahkan irisan tipis lemon. Aroma lembut menyebar di dapur hingga juru masak tua yang sedang memotong sayur menghentikan pisaunya. Ia menyeduh teh layaknya orang yang bertahun-tahun bekerja di dapur, bukan nona muda yang seumur hidupnya dilayani.

Setelah itu ia membawa sebaki teh kepada Marian dan mengajaknya duduk minum bersama di taman belakang. Marian begitu kaget hingga nyaris menjatuhkan cangkir. “Nona belum pernah duduk satu meja dengan saya.” Roselin tertawa pelan. “Kurasa kita perlu duduk dan mengobrol sesekali, karena kaulah yang paling lama mendampingiku.”
Siang harinya, Paman Juan sang tukang kebun diam-diam meletakkan beberapa buah di depan pintunya tanpa berani menyapa langsung. Roselin melihat luka di tangannya dan menyuruh Marian membawakan salep herbal. Itu pertama kalinya orang di rumah ini merasa bahwa ia lebih dari sekadar wajah yang menakutkan.
Sepanjang hari itu ia mencari tahu seperti apa dirinya dahulu dari ucapan orang-orang di sekitarnya. Nona muda yang lama gemar menindas para pelayan dan memenangkan setiap perdebatan dengan kekuasaan keluarganya. Roselin mencatat semuanya di buku kecil, sebab ia ingin memperbaiki semua yang ditinggalkan pemilik sebelumnya sebelum pesta ulang tahun.
Sebelum tidur ia membuka halaman baru dan menulis satu baris. “Sepuluh hari. Aku harus menemukan cara agar semua orang berhenti takut padaku, dan jalan keluar dari lorong menuju tempat eksekusi.”
Komentar 0
Belum ada komentar — jadilah yang pertama 💬